jessica pranoto

all about jessica's daily life

Mei 10, 2009

Mantan Suami/Istri dan Mantan Anak

Aku sering sekali dengar orang2 ngasih nasehat dengan ngucapin kata2 “klo suami/istri bisa jadi mantan suami/mantan istri, tapi klo anak gak bisa jadi mantan anak”.
Tadinya aku percaya2 aja ama omongan itu, justru aku sempet berpikiran klo kata2 itu bener juga.
Tapi aku skarang sadar kalo kata2 itu salah sama skali!

Aku seorang katolik.
Di agama yang aku yakini ini, ga ada yang namanya perceraian.
Gak pernah diajarin, gak pernah dianjurin.
Yang ada justru ajaran bahwa melalui pernikahan, maka “mereka bukan lagi dua, melainkan satu”.
Dan ajaran bahwa pernikahan “tidak bisa diceraikan oleh manusia”.
Berdasarkan ajaran itu, skarang aku tahu, bahwa ikatan pernikahan sama kuatnya dengan ikatan orangtua dengan anak kandungnya.
Dan seharusnya gak ada yang namanya mantan istri/suami.

Kita gak bisa sembarangan menceraikan pasangan kita.
Dan menurut aku, klo kita menceraikan pasangan kita,
sama aja kayak kita mengusir anak kita dan menganggap dia bukan anak kita lagi.
Suami/istri mungkin memang gak sedarah daging dengan kita.
Tapi melalui pernikahan itulah “mereka menjadi satu daging”.

Klo anak, kita gak bisa milih.
Tapi klo suami/istri, kita bisa milih.
Karna itu, justru seharusnya kita bisa lebih mempertahankan pasangan kita,
karna kita yang udah memilih mereka menjadi pasangan hidup kita.

Kita gak pernah tau kelak kita bakal dapat anak yang kayak apa.
Mungkin dia akan menjadi anak yang penurut, pembangkang, cantik/ganteng, boros, atau apapun, kita gak pernah tau.
Tapi saat anak itu lahir dan tumbuh besar,
kita bisa menerima segala kelebihan dan kekurangannya.
Kita bisa memuji segala kelebihan yang dia punya,
dan berusaha bersabar menghadapai segala kekurangannya.

Lain halnya dengan pasangan hidup.
Kita sudah tau apa saja kelebihan dan kekurangan dia, sebelum kita menikahinya.
Meskipun mungkin nantinya dia berubah menjadi lebih baik atau lebih buruk,
setidaknya kita sudah bisa memperkirakan seperti apa pasangan hidup kita.
Tapi entah kenapa,
justru kita kadang susah atau jarang memuji kelebihannya,
dan jauh lebih susah lagi untuk belajar bersabar menghadapi kekurangannya.

Karna itu,
buat semua yang pernah ngucapin kata2 “klo suami/istri bisa jadi mantan suami/mantan istri, tapi klo anak gak bisa jadi mantan anak” ke aku,
maap, aku akan bantah kalian.
Aku gak mau punya mantan suami,
sama halnya kayak aku gak mau punya mantan anak.
Itu janjiku, dan itu tekadku.

Label:

1 Komentar:

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

<< Halaman Muka